Back
September 23, 2014 - 11:50 AM

Intiland Memulai Proyek Graha Natura Lewat Program Konservasi Hayati

SURABAYA, KOMPAS.com - Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk memulai tahapan pembangunan Graha Natura, sebuah kawasan perumahan baru di Surabaya Barat, melalui program konservasi pohon langka dan penanaman keanekaragaman jenis pohon nasional. Pembangunan dan penyediaan infrastruktur lingkungan yang sehat dan asri menjadi prioritas utama sekaligus tahapan paling awal dalam membangun kawasan perumahan ini.

Sinarto Dharmawan, Wakil Presiden Direktur dan Chief Operating Officer Intiland ingin menjadikan Graha Natura sebagai perumahan yang memiliki konsep tata lingkungan yang asri dan dan sehat bagi para penghuninya. Konsep ini diwujudkan dengan mengalokasikan hampir separuh dari luas lahan di kawasan Graha Natura untuk area terbuka hijau.

“Kami menjadikan Graha Natura bukan hanya menjadi kawasan hunian yang nyaman, tetapi juga menawarkan inovasi dari aspek lingkungan yang sehat, desain arsitektural tropis, infrastruktur yang terpadu, dan teknologi. Jadi tinggal di Graha Natura bukan hanya nyaman, tapi juga mengutamakan aspek kesehatan yang didukung keunggulan dari sisi lingkungan alami serta teknologi informasi dan
komunikasi yang canggih,” kata Sinarto dalam siaran persnya, Kamis (26/1/2012).

Graha Natura adalah pengembangan proyek perumahan terbaru Intiland yang berlokasi di Surabaya Barat. Memiliki potensi pengembangan seluas 100 hektar, Intiland menargetkan Graha Natura menjadi trendsetter kawasan perumahan masa depan yang unggul dan punya nilai tambah pada sisi konsep, lingkungan, dan teknologi. Tersedia berbagai fasilitas hiburan dan olah raga, seperti club
house dengan kolam renang, gym, jogging track serta garden food court untuk menunjang gaya hidup para penghuninya.

Dalam mewujudkan kawasan lingkungan sehat dan asri, perusahaan menggandeng Seameo Biotrop (South East Asia Regional Center for Biology Tropical), Pusat Regional Asia Tenggara untuk Biologi Tropika. Seameo Biotrop merupakan lembaga yang berperan membantu perusahaan melakukan penelitian, pelatihan, kerjasama, dan penyebaran informasi dalam lingkup biologi tropika.

“Lewat kerja sama ini, Seameo Biotrop akan memberikan dukungan konsultatif dan teknis mengenai upaya konservasi dan keanekaragaman hayati di Graha Natura. Mereka akan memberikan saran dan metodologi dalam rangka upaya bio-diversity pepohonan nusantara, termasuk konservasi untuk jenis
pohon langka,” kata Sinarto lebih lanjut.

Pengembangan tahap pertama Graha Natura meliputi lahan seluas 32 hektar yang akan dibangun sebanyak 492 kavling rumah yang terbagi ke dalam empat kluster. Pembangunan infrastruktur kawasan sudah dilakukan, seperti untuk jalan, jaringan air, water treatment plant, listrik, dan jaringan kabel optik.

Menurut Sinarto, pihaknya menargetkan menanam sedikitnya 10.000 pohon dari 1.000 jenis berbeda di seluruh kawasan Graha Natura. Jumlat tersebut mewakili sekitar 25 persen dari 4.000 jenis pepohonan yang tumbuh di Indonesia.

Pada saat ini sudah terdapat sekitar 3.000 pohon dari 220 jenis pohon berbeda yang ditanam di kawasan Graha Natura. Beberapa diantarannya merupakan jenis pohon langka dan serta memiliki keunikan, antara lain Baobab atau Kalpataru (Adansonia Digitata) yang disebut juga pohon kehidupan.

Jenis pohon yang bisa berumur ribuan tahun ini ditanam di pintu gerbang utama sebagai simbol kawasan. Baobab merupakan pohon terbesar kedua di dunia setelah Red Wood, karena tingginya bisa mencapai 47 meter dengan lingkar batang bisa mencapai 16 meter.

Jenis tanaman langka lainnya adalah Khaya (Mahony Affica), Pulai atau Devil Rat Tree (Alstonia Scholaris), Kigelia Africana (pohon Sosis), Asoka (Saraca) atau yang lebih dikenal sebagai Ganda Puspa, serta Jusmine Tree atau Kemiri Cina yang disebut juga disebut sebagai pohon keberuntungan. Ada pula jenis Silk Cotton Tree atau di Indonesia dikenal dengan nama Randu Alas ( Bombax Ceiba) yang menjadi bunga nasional Tiongkok.

Selain pohon-pohon langka, Graha Natura juga menanam beragam jenis pepohonan unik atau memiliki fungsi sangat baik bagi kesehatan. Pohon Trembesi, salah satunya, selain dikenal sebagai pohon peneduh, tanaman ini mampu menyerap 22-28 ton karbondioksida per tahunnya. Pohon Trembesi ditanam di sepanjang jalan klaster, sementara untuk jalan utama ditanami pohon Khaya Sinegalensis.

Menurut Sinarto, selain menanami Graha Natura dengan berbagai jenis pepohonan, konsep kawasan perumahan sehat dan ramah lingkungan diwujudkan antara lain dengan merancang sistem infrastruktur limbah rumah tangga yang terpadu dan terpusat dengan membangun sewarage treatment plant.

Infrastruktur septic tank, misalnya, tidak ditempatkan pada masing-masing rumah namun disalurkan dan diproses ke pusat pengolahan limbah. Metode ini membantu menciptakan lingkungat tempat tinggal yang sehat dan mengurangi risiko berkembangnya berbagai jenis bakteri yang dapat mencemari air dan tanah di lingkungan rumah.

Kemudian dari sisi penerapan teknologi, pembangunan jaringan fiber optic memudahkan para penghuni mendapatkan berbagai jenis layanan komunikasi dan informasi berbasis teknologi tinggi. Beberapa contoh penerapannya adalah untuk video phone, Voice over Internet Protocol, jaringan internet berkecepatan tinggi, dan saluran televisi satelit yang berbasis high definition.

Keunggulan lainnya adalah untuk sistem keamanan terpadu yang memungkinkan penghuni Graha Natura secara pro-aktif turut berpartisipasi menjaga kawasan lingkungan lewat tampilan video secara langsung.

“Penggunaan instalasi kabel bawah tanah dan fiber optik adalah solusi untuk menghadirkan teknologi canggih dan aman di setiap rumah. Sebagai rumah yang berwawasan teknologi, Graha Natura menjadi pilihan tepat untuk memenuhi tuntutan gaya hidup generasi muda yang memiliki mobilitas pekerjaan yang tinggi,” kata Sinarto.

Dibangun Dalam 10 Tahun
Manajemen Intiland menilai pengembangan Graha Natura memiliki nilai strategi bagi upaya menopang pertumbuhan kinerja perusahaan di masa depan. Pembangunan proyek ini dilakukan dalam beberapa tahapan dan diperkirakan selesai dalam kurun waktu 8-10 tahun. Tahapan pertama difokuskan pada pembangunan infrastruktur dan rumah tapak, yang akan disusul dengan proyek
mixed-use dan high rise development yang menempati sisi sebelah utara kawasan.

Intiland selain menggandeng Saemeo Biotrop, juga bekerja sama dengan sejumlah konsultan terkemuka untuk membangun kawasan ini. Untuk desain infrastruktur teknis perusahaan bekerja sama dengan PT Meinhardt Indonesia, afiliasi dari Meinhardt Group yang didirikan sejak tahun 1955 di Melbourne, Australia dengan jaringan yang tersebar di 22 negara. Sementara untuk desain rencana induknya (masterplan), Intiland bekerja sama dengan PTI Architects (Peddle Thorp Internasional).

Pembuatan desain arsitektural landscape dipercayakan kepada Karl Princic, sebuah firma arsitektur yang banyak mengerjakan desain landscape beberapa hotel terkemuda di pulau Bali.

Desain rumah Graha Natura mengedepankan konsep hunian tropis yang mengutamakan fungsi setiap elemen di dalamnya. Memiliki luas lahan mulai 320 meter persegi dan luas bangunan mulai 261 meter persegi, tersedia 16 tipe rumah contoh karya arsitek ternama Indonesia, seperti Tony Simonata, Denny Gondo, Budhi Harmunanto, dan Vincentius Hadi Sutjiadi. Masing-masing tipe tersebut menawarkan konsep rancangan yang berbeda dan memiliki ciri khas dan keunggulan masing-masing.

“Desain arsitektural rumah di Graha Natura bertujuan pada pencapaian aspek kenyamanan, kemudahan, dan harmonisasi keluarga sebagai prioritas utama. Ruangan-ruangan utama sengaja ditempatkan di lantai dasar bertujuan agar tercipta kebersamaan dan komunikasi antaranggota keluarga,” jelasnya lebih lanjut.